Suasana Ruang MS SMKN 10 Semarang tampak berbeda dan lebih penuh warna pada Jumat, 6 November 2026. Para siswa yang tergabung dalam Klub Kiseki berkumpul dengan antusias untuk mengikuti workshop kebudayaan Jepang. Kali ini, mereka berkesempatan belajar seni membungkus kain tradisional Jepang yang dikenal dengan sebutan Furoshiki, langsung dipandu oleh penutur asli, Nanako Sensei. Kegiatan ini merupakan bagian dari program interaksi budaya yang dibawa oleh Nihongo Partners di SMKN 10 Semarang. Melalui pelatihan langsung ini, para siswa tidak hanya diajarkan teknik melipat kain, tetapi juga diperkenalkan pada filosofi mendalam di balik tradisi membungkus barang khas negeri sakura tersebut.
Dipandu oleh Nanako Sensei, para anggota Klub Kiseki diajarkan berbagai teknik dasar melipat Furoshiki. Mulai dari membungkus kotak bekal (bento), botol minuman, hingga menyulap selembar kain menjadi tas jinjing yang cantik dan kokoh. Para siswa tampak fokus mengikuti setiap instruksi dan gerakan tangan Nanako Sensei saat membentuk simpul. Ruang MS pun dipenuhi tawa dan riuh tepuk tangan setiap kali ada siswa yang berhasil menyelesaikan bungkusan kainnya dengan rapi dan estetik. Kegiatan praktik langsung ini dinilai sangat efektif untuk memperluas wawasan kebudayaan internasional para siswa. Tahukah kamu dari mana asal-usul nama Furoshiki? Secara harfiah, kata Furo berarti "mandi" dan Shiki berarti "membentangkan". Pada zaman Muromachi (1336–1573), kain ini awalnya digunakan oleh para bangsawan untuk membungkus pakaian mereka saat pergi ke pemandian umum agar tidak tertukar dengan milik orang lain.
Seiring berjalannya waktu, fungsi Furoshiki meluas menjadi pembungkus hadiah dan barang dagangan. Di era modern ini, Furoshiki kembali populer di seluruh dunia sebagai alternatif kantong plastik yang ramah lingkungan karena kainnya bisa digunakan berulang kali dengan berbagai bentuk yang fleksibel.
Melalui kegiatan ini, SMKN 10 Semarang berharap para siswa tidak hanya mahir dalam berbahasa Jepang, tetapi juga mampu mengadopsi nilai-nilai positif seperti menjaga lingkungan (mottainai) yang tercermin dalam seni Furoshiki.

